Kamis, 03 Mei 2012

Mengenal Kg. Mulyono


Ahmad Mulyono

Awan hitam menyelimuti malam, angin bertiup spoi-spoi membuat dingin menyusup di hati, suasana gelap mencekam di suatu desa yang belum ada listrik, tepatnya Desa Brangol Kecamatan Krangjati Kabupaten Ngawi. Malam Jum’at  tanggal 19 Desember 1980 lahirlah seorang bayi laki-laki yang bernama Mulyono. Dia anak pertama dari dua bersaudara, ketika umur 7 tahun dia dititipkan oleh orang tuanya kepada pamanya untuk belajar mengaji. Pamanya adalah seorang guru agama dan imam masjid di dsn. Kali kangkung Desa Nglebak Kecamatan Menden Kabupaten Blora. Dua tahun kemudian dia pulang kampung dan melanjutkan sekolahnya di SDN Brangol Karangjati Ngawi. Selain seorang anak yang pendiam dia juga suka tirakat puasa senin kamis dari kelas 5 SD berlanjut sampai kelas 3 MAN Ngawi.
Tahun 1995 sekolah di MTs Guppi Padas Ngawi, selain aktif dalam kegiatan kepramukaan dia juga ikut bela diri Ikatan Pernafasan Suci Ati (IPSA). Dia selalu menjadi Bintang kelas sekaligus ketua kelas bukan karena anaknya pandai atau genius, akan tetapi tetapi karena kerajinan, ketlatenan dan keuletan dalam mempelajari mata pelajaran. Setiap malam ada dua mata pelajaran yang wajib di pelajari karena dia anggap sulit, pelajaran Matematika dan Bahasa Arab. Dengan ditemani tip recorder dan sebuah kaset Obbie Mesak yang dibolak-balik tiga sampai empat kali tanpa mengenal bosan dia asyik belajar berjam-jam bahkan habis sholat isa’ sampai jam satu malam. Salah satu Nasehat pak guru yang dia ugemi  adalah “ Kalau pelajaran yang paling sulit sudah kamu kuasai maka pelajaran yang lainnya akan terasa mudah semua”. Dan nasehat ini jadi jimat yang mujarab terbukti kasiatnya. Setelah nilai raport pelajaran  matematika dapat nilai 9 ternyata pelajaran lainnya juga tidak jauh beda.
Tahun 1997 sekolah di MAN Ngawi, dan mondok di PonPes. Baiturrohman Beran. Dari sini pikiranya sudah mulai terpecah tidak bisa fokus dalam pelajaran. Setelah lulus MAN tahun 2000 dia masih tetap tinggal di pondok Baiturrohman. Pada tahun 2004 pindah ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Di PPSPA dia menjadi santri ndalem atau santri mandiri yang tidak menggantungkan kiriman dari orang tua melainkan bekerja mengabdi membantu Pak Kyai Melayani Para santri. Pagi hari dia sekolah di Madrasah Diniyyah Al-Qur’an siangnya dengan santri mandiri lainnya memasak untuk makan seribu lebih santri, malam harinya ikut tahfidz Al Qur’an.
Empat bulan kemudian dia di kasih tanggung jawab untuk mengelola koprasi pondok, hingga 5 tahun lamanya menjadi penjaga kopontren atau lebih di kenal MM (Mini Market).  Suatu hari dia dapat telpon dari pamannya di Papua untuk membantu menghidupkan agama Islam disana. Walau agak berat karena dia belum khatam Al Qur’an dia berangkat ke papua dengan Niat hanya lillahi ta’ala dan bertawakal pada Allah

Pulau papua cerah, pesisir pelabuhan Jayapura merekah, menyambut kedatangan  Kapal Gunung Dempo yang membawa penumpang dari  pulau Jawa, hari Senin 20 April 2009, pertama kali dia menginjakkan kaki di pulau Papua, setelah lima hari enam malam terapung-apung di atas kapal. Hatinya sedikit bergetar meliht  sebuah tulisan besar sekali “Selamat Datang Di Pelabuhan Jayapura Papua “ disebelahnya terdapat salib raksasa besar sekali, yang mengandung kesan bahwa penduduk papua identik dengan kristen.  Perasaan sukacita meruap dalam dada mengalahkan keluh kesah karena dia akan berjumpa dengan pamannya yang sudah sekian tahun lamanya tak bertemu. Setelah satu jam dia menunggu akhirnya pamannya datang menjemputnya. Kemudian mereka pergi menuju masjid agung Jayapura yang terletak di kota Sentani. Selama seminggu disana ada tiga tawaran yang harus dipilihnya, pertama jadi takmir masjid agung sentani, kedua mendirikan Pondok Pesantren di daerah transmigrasi SP1, ketiga mengajar ngaji karyawan serta merawat mushola yang baru saja didirikan di sebuah perusahaan kelapa sawit PT.Sinar Mas. Sambil bekerja di kantor sebagai administrasi Divisi di perusahaan tersebut. Akhirnya dia memilih tawaran ke tiga dengan alasan untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, beribadah sambil bekerja

Perkebunan kelapa sawit PT. sinar Mas yang luasnya sekitar 15.000 Hektar lebih mempunyai ribuan karyawan yang terdiri dari beberapa estate, tiap estate terbagi lagi menjadi beberapa divisi. Kg. Mulyono tinggal di Rajawali estate divisi III yang tempatnya di ujung pekebunan daerah paling dalam yang dekat dengan hutan belantara. Baraknya  dihuni sekitar 600 jiwa yang beragama Islam, Kristen, Khatolik dan Budha, umat muslimnya hanya 20 orang dari 600 jiwa, terdiri 15 laki-laki dan 5 perempuan. Walaupun minoritas mereka hidup tentram dan aman dalam mejalankan ibadah, karena kerukunan dan toleransi antar umat beragama terjalin sangat erat. Setelah satu tahun dia menjalankan tugasnya disana terasa olehnya suatu kejenuhan dan merasa butuhnya seorang pendamping. Akhirnya dia pulang ke jawa untuk mencari tulang rusuknya yang hilang satu, bulan april  2010 dengan naik pesawat Batavia dia terbang ke pulau jawa. Dari bandara Sentani Papua menuju ke Jakarta terus transit ke Jogja. 
          Setelah dua minggu dirumah dia berangkat ke Ponpes Miftahul Jannah Kroya Cilacap untuk memperbaiki hafalan 7 juz ayat Al Qur’an yang telah sedikit terlupa selama di Papua. Bulan 6 tahun 2011 dia mendirikan Lembaga Pendidikan Kompouter Islami “ Murya.Net Computer “ . Pada akhir tahun 2011 dia masuk Kuliah di STAI Sunan Giri Bojonegoro cabang ngawi, yang bertempat di PonPes Al – Falah Jogorogo. Sampai saat ini bulan Mei 2012 dia belum jua menemukan tambatan hatinya yang saling menyayangi, satu misi yang mau diajak untuk mensyiarkan agama bersama.